Gentle Sunday

Akhirnya, Saya Memutuskan Pergi ke Dokter Gizi

IMG_6929

“Waktu tidur, nafas kamu bunyi,” Abang, suami saya, berkata suatu hari.

Saya menatap Abang dengan wajah horor. Hari itu libur dan saya menghabiskannya dengan kegiatan paling menyenangkan di akhir minggu: Bangun siang.

“Masa Iya? Mungkin kecapekan.” Saya menjawab sekenanya, karena memang kalau kecapekan saya suka mendengkur. Tapi nggak bisa dipungkiri, saya jadi menyentuh leher yang akhir-akhir ini terasa lebih tebal. Mirip badak.



”Bukan. Kayak sesak. Lemak kamu di leher udah banyak itu.”

Saya terdiam. Rasanya kayak ditonjok, tapi di leher.


Sudah hampir satu tahun saya menghindari timbangan. Saat melihat angka terakhir di jarum, saya memutuskan untuk melupakannya, dan membiarkan timbangan saya berdebu di kolong kasur.

Saya masih olahraga sebisanya; namun jujur, saya tidak benar-benar memperhatikan apa yang saya makan. Saya makan apa saja yang ada, yang cepat, yang murah. Saya makan cemilan yang tersedia saat meeting, saya memilih kopi dengan kadar gula normal karena saya suka, dan kalau ada deadline dadakan, saya akan pesan kopi lagi.

Terlebih karena selalu ada alasan: entah sibuk, harus lembur, memasak jadi pilihan paling terakhir. Yang penting pekerjaan selesai, ada energi dari makanan, dan tentu saja di-push kopi (manis) saat kejar deadline. Masih dengan pekerjaan saya yang kadang menuntut datang subuh-pulang malam dan lebih banyak duduk menatap layar.

Pura-Pura Tetap ada Batasnya

Toh kondisi tubuh tidak bisa bohong. Meskipun tidak menimbang berat badan, sejak awal tahun 2026 tubuh saya mulai terasa menyulitkan. Pakaian lama terasa sempit dan saya lebih mudah terengah. Tubuh lebih mudah begah dan lelah.

Sampai ketika suami saya berkomentar seperti itu. Di luar keseharian dia yang memang suka panggil saya ndut (affectionately) , untuk pertama kalinya, tidak hanya stres yang membayangi, tapi juga rasa takut.

Saya takut tubuh saya tidak akan kuat mengimbangi cara hidup saya—dan saya akan merepotkan orang lain; entah suami saya, entah adik saya.

Singkatnya: saya takut mati muda. 😅

Terlebih karena Ibu saya meninggal di usia muda juga (41), ketakutan itu jadi terasa sangat nyata.

Memang usia di tangan Tuhan, namun saya tahu saya harus melakukan sesuatu. Jadilah, bulan April lalu saya memutuskan untuk membuat janji dengan dokter gizi.

Menimbang Badan Lagi, Setelah Hampir Setahun

IMG_6930

Setelah mencari-cari rekomendasi akhirnya saya memilih dokter di sebuah klinik kecantikan di Bandung—yang akan saya jelaskan lebih lanjut di postingan lainnya. Reservasi saya dapatkan di hari Sabtu pukul 13.00.

Mengingat saya tidak ingin terlambat, saya berangkat sebelum jam makan siang dan terburu-buru dari stasiun kereta. Nggak ada waktu untuk mampir makan siang, jadi saya membeli batagor di pinggir jalan keluar stasiun.

Hmmm, apakah saya akan harus mengucapkan selamat tinggal pada makanan seperti ini nanti? Sepertinya iya, jadi setidaknya saya cukup menikmati batagor hari itu.

Pertama kali datang rasanya minder. Seorang asisten membawa saya menghadapi benda yang saya hindari setaun terakhir: timbangan.

Selama ini saya tidak pernah berhasil diet.

Jarum menunjukkan angka yang bikin saya ingin menangis saat itu juga. Bagaimana tidak? Seumur hidup baru pertama kali saya melihat angka tersebut di timbangan.

86 kg.

Delapan puluh enam. Sewaktu awal kerja dulu, timbangan saya konsisten ada di angka lima puluhan. Saat menikah pun berat saya masih di 60 kg.

Tujuh tahun kemudian, ditambah satu tahun terakhir tanpa memikirkan timbangan, ternyata berat badan saya sudah naik setinggi itu.

Bertahun-tahun, setiap kali baru turun satu-dua kg, saya akan menambah kiloan lima kg. Jadi otak saya seperti sudah menetapkan bahwa saya tidak akan pernah bisa menurunkan berat badan.

Ditambah lagi saat terapi untuk HNP, saya minum obat kortikosteroid secara rutin. Obat yang membuat saya mudah naik berat badan dan tidak mudah turun. Sekarang saya sudah tidak minum lagi, tetapi pikiran “sulit diet” sudah mendarah daging.

Asisten yang mendampingi saya tampaknya merasakan ketegangan dari diri saya. Saya nyengir serba salah, sementara dia berkata, “Nggak apa-apa, kak. Setelah ini ‘kan kita program.”

Sebagai bagian dari klinik tersebut, tentu saja wajahnya yakin dan sumringah. Sementara saya malah makin ragu.

Saya menunggu waktu konsultasi sambil harap-harap cemas. Dengan riwayat gagal diet selama bertahun-tahun, saya bahkan tidak yakin tubuh saya masih bisa diajak bekerja sama.

Apakah keputusan saya datang ke sini tepat?

Saya kira ya. Karena selama ini saya tidak bisa menanganinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya memutuskan berhenti mengandalkan kemauan sendiri dan meminta bantuan profesional.

Apakah konsultasi ke dokter gizi langsung berhasil?

Saat menulis ini, berat badan saya tidak lagi 86 kg. Tapi juga bukan berarti saya sekarang mendadak langsing atau berkurang puluhan kilo, karena tentu saja tidak sesederhana itu.

Ceritanya akan saya lanjutkan di tulisan berikutnya.


Satu bulan lebih ini cukup banyak yang terjadi sehingga saya nggak sempat menulis. Sekarang semoga bisa tertuliskan pelan-pelan.


Salam,

Mega


send your thoughts via email or buy me snack to fuel my writings.

#2026 #ID #Mindful Living #Personal Reflection #diary #wellbeing