Gentle Sunday

Catatan Ngopi: Tiny Seed Cafe, Kota Baru Parahyangan

IMG_4537

Sejak tinggal di Cimahi, saya jarang banget main ke Bandung, kecuali ada keperluan. Selain karena Cimahi sudah cukup lengkap untuk kebutuhan dasar, Bandung saat akhir minggu rawan macet dan penuh. Kami lebih suka ke area Kota Baru Parahyangan untuk cari makan atau jala-jalan sore.

Kota Baru Parahyangan (KBP) adalah kota mandiri yang terkelola. Berdiri sejak awal 2000-an, KBP kini menjadi destinasi alternatif untuk wisata kuliner dan belanja. Kalau orang Jabodetabek akhir minggunya kabur ke Bandung, konon orang Bandung dan sekitarnya kaburnya ke KBP. Hahaha…

(Agar mudah membayangkan, KBP itu semacam BSD atau Alam Sutera di area Jabodetabek)

Saya dan Abang juga termasuk dalam ”pengungsi” tersebut. KBP memiliki banyak tempat makan dan ngopi, mulai dari yang berjaringan, cabang dari Bandung, sampai yang hidden gem alias native area sana. Salah satunya adalah Tiny Seed Coffee.

IMG_0407 Sumber foto dari google maps.

Tiny Seed, Coffee Shop ala Australia

Saya sendiri tahu Tiny Seed saat mencari-cari spot kuliner baru di KBP. Tiny Seed ternyata cukup populer—setidaknya dari Google Review. Ternyata selama ini kami sering melewatinya, tapi tidak sadar kalau tempat itu adalah sebuah kedai kopi.

Kalau tidak teliti, sekilas tempat ini tidak seperti kafe. Lokasinya berada di deretan ruko yang tidak semuanya berjualan kuliner. Ada tempat usaha, toko, dan apotek. Ada beberapa meja makan dengan payung di luar.

Tulisan Tiny Seed yang cukup mencolok di dinding ruko menjadi penanda nama. Tapi karena tidak ada tulisan “kafe”, butuh mata jeli sampai sadar kalau tempat itu adalah kafe. Tampilan bersih dan namanya membuat saya mengira kalau Tiny Seed adalah studio foto untuk newborn 😅😅

IMG_4546

Saat masuk ke dalam, barulah suasana kafe-nya berasa. Interior ringan, cerah dan sedikit bergaya coastal membuat tempatnya nyaman meskipun sempit. Selidik punya selidik, pemilik kedai kopi ini adalah orang Australia. Pantas saja vibe-nya sedikit berbau Australian Beach. (Saya belum pernah ke Australia, tapi kira-kira begitulah).

Konon kafe ini bergaya otentik Australia, dan cukup sering didatangi oleh ekspatriat Australia yang tinggal di sekitar situ. Nampaknya pemiliknya juga sangat menyukai kopi karena saya menemukan beberapa majalah niche tentang perkopi-an. Orang yang doyan kopi pasti berasa ketemu surga dunia.

Saat kami datang ke sana, area lantai dua masih dalam renovasi. Namun per tulisan ini diterbitkan, lantai dua sudah beroperasi sehingga areanya sudah lebih luas. Terdapat tempat duduk biasa maupun sofa. Ada juga self-booth yang cocok untuk dipakai bekerja alias WFC.

IMG_4536

Yang Kami Pesan di Tiny Seed

Sejalan dengan tema kafe Australia, racikan menunya juga turut mengikuti. Suami saya pesan Magic yang memang merupakan racikan dari negara Kanguru itu. Sedangkan saya memesan menu seasonal: Spice Latte.

It was super smoooooth. Enak! Mudah diminum, tapi nggak bikin kopinya berasa ringan. Tetap terasa kopinya dengan rempah-rempah yang balance. Saya suka rasa kayu manis yang tertinggal di kopi saya. Begitu juga dengan Magic yang dipesan suami saya. Tapi karena rasanya (tentu saja) pahit, saya lebih suka Spice Latte punya saya sendiri hehehe.

Selain kopi, Tiny Seed juga menyediakan makanan ringan dan berat. Terdapat bakery kecil yang menyajikan berbagai jenis cake dan roti. Menu makanan berat yang disajikan meliputi All-day breakfast, salad bowl, dan Australian Burger. Kami memesan Basque Burnt Cheesecake dan Truffle Fries, karena kami tidak datang dalam keadaan lapar.

Pemrosesan cukup lama, tapi rasanya enak dengan bahan yang terasa premium. Range harga yang diberikan terbilang cukup “mahal” terlebih untuk kafe kecil yang bertempat di ruko. Namun hal tersebut sebanding dengan rasanya. Sepertinya memang kafe ini menyasar ekspatriat yang tinggal di sekitar, sehingga harganya pun mengikuti.

IMG_4543

Come Again, Come Again

Lokasi Tiny Seed cukup “tersembunyi” kalau tidak melihat dengan teliti. Kalau berjalan kaki, tempatnya hanya lima menit dari IKEA Kota Baru Parahyangan. Membawa kendaraan pun mudah, karena selalu tersedia tempat parkir di depannya. Terlebih karena parkir di area KBP tidak berbayar (kecuali IKEA yang per 2026 memberlakukan pembayaran).

Satu kekurangan kafe ini: Mereka tidak buka sampai malam. Barista dan server hanya melayani dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Karena itu, bisa dibilang waktu kunjung sangat terbatas, apalagi buat saya yang biasanya baru kepikiran pergi-pergi di atas jam 2 siang, hahaha.

Saat membayar, kami mendapatkan sebuah kartu kecil dengan cap. Setiap kali datang kami akan dapat satu cap, dan sepuluh cap kami akan mendapatkan satu kopi gratis. Memang sih kami nggak akan sesering itu datang, jadi ragu juga kapan dapat sepuluh cap (haha), tapi tentunya kami akan datang lagi kemari!

IMG_4548

Salam,
Mega


send your thoughts via email or buy me snack to fuel my writings.

#2026 #Everyday Escapes #ID #catatan ngopi #hang out