Bertahun Kemudian, Saya Kembali Menjadi Mahasiswa

Terima kasih untuk teman baik yang mengambil foto saya yang ini.
Dua pekan lalu saya resmi menjadi mahasiswa untuk kedua kalinya.
Yes! Tahun ini saya jadi mahasiswa pascasarjana. Magister di bidang Manajemen, di instansi tempat saya bekerja sekaligus tempat saya menimba ilmu saat program sarjana. Kalau kata teman saya, sudah rezeki. Kalau kata saya, barangkali alam bawah sadar saya kelewat cinta sama tempat ini. (Ha ha ha).
Kuliahnya diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu, pagi sampai malam. Kelas eksekutif satu-satunya yang tidak menggunakan skema kerja sama. Mahasiswa lainnya rata-rata dari BUMN, posisi senior di perusahaan swasta, maupun wirausaha. Saya “nyempil” di situ bersama tujuh orang lainnya dari instansi yang sama.
Meskipun saya berstatus sebagai pejabat struktural di kantor, realitanya ruang lingkup saya termasuk kecil. Saat ini bahkan saya sedang tidak punya bawahan langsung karena satu dan lain hal. Jadi sesungguhnya saya sedikit minder.
Tapi nggak apa-apa, selalu ada jalur nekad dan gas aja, ya kan? Toh udah sama-sama lolos seleksi masuk. 😁
Dengan jadwal kuliah dua hari seminggu, jadwalnya cukup padat karena mengejar target waktu lulus dalam waktu satu setengah tahun. Sampai kemarin masih mengawang-ngawang. Saat program orientasi kemarin, bergabung bersama seluruh peserta dan “bermain-main” dengan kerja kelompok membuat business pitch, saya baru sadar kalau oh, iya. Sekarang saya mahasiswa lagi.
Sebagai orang yang lulus dari bidang desain, bidang ini adalah bidang yang sama sekali baru untuk saya. Namun keinginan ini bukanlah hal yang baru. Saat kesempatan itu datang pada saya, saya tahu: saya akan lebih menyesal kalau tidak mencoba dibanding kalau saya mencoba dan gagal.
Karena keinginan ini pernah saya doakan dan juga saya tunda, bertahun-tahun yang lalu. 🙂
Dulu, program magister manajemen ini populer untuk lulusan bidang seni dan desain di tempat saya. Kebanyakan mengincar program entrepreneurship, sesuai dengan tujuan mayoritas dari kami yang ingin memiliki usaha sendiri.
Impian saya juga dulu sama. Lulus dari bidang desain, tepatnya fashion, cita-cita saya waktu itu terasa sederhana: punya brand sendiri, bisnis sendiri, meneruskan usaha ayah yang waktu itu ada di bidang konveksi. Supaya bisa bisnis, ada baiknya kalau memiliki fundamental manajemen dan entrepreneurship. Saya melihat teman saya satu per satu mengambil program itu—atau ya sekalian ke luar negeri.
Seseorang menyarankan saya untuk mendaftar ke LPDP dalam negeri. Waktu itu saya baru saja mulai bekerja. Merasa tidak punya tujuan—atau tepatnya belum—saya pun mulai mengumpulkan niat dan itikad.
Teman-teman saya juga bisa, mengapa saya tidak?
Baru saja saya mulai mengumpulkan persyaratan, Ayah saya jatuh sakit. Sakit berat untuk pertama kalinya, sampai tidak bisa bangun dan harus transfusi beberapa minggu sekali. Sakit yang membuat beliau sama sekali berhenti bekerja, dan membuat saya bingung harus apa.
Adik-adik saya waktu itu masih kecil. Kalau nggak salah masih SD. Saya baru mulai bekerja dengan gaji yang masih pemula. Saat itu saya menerima proyek desain di instansi saya sekarang bekerja—yang tadinya saya kira sementara. Kontrak tiga bulan saja.
Saya pikir setelah itu ayah saya akan sembuh. Ternyata berlarut-larut. Gabungkan dengan beberapa manuver usaha beliau yang tidak berhasil, dan endingnya sayalah yang perlahan jadi tumpuan keuangan keluarga, sekaligus perempuan paling tua. Dua puluh lima. Setelah tiga bulan saya ditawari jadi pegawai kontrak yang tentu saja saya terima.
Sambil gagap membayar uang sekolah adik, utang dari sisa-sisa usaha, dan kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang ada—gaji yang pas untuk satu orang, tapi terlalu sedikit untuk empat manusia—saya memutuskan untuk terus bekerja. Di mata saya hanya ada satu tujuan: survive.
Bertahan hidup.
Pernah suatu kali saya menelepon teman saya karena mendadak saya vertigo parah sampai tidak bisa berjalan di kantor. Dokter THT di rumah sakit terdekat menghabiskan biaya tujuh ratus ribu. Uang di rekening saya tidak sampai segitu, karena baru saja dipakai membayar cicilan KUR yang datang tiba-tiba; sebuah hutang yang tidak saya ketahui sebelumnya. Setengah menangis saya menelepon dia.
Uang ditransfer, dokter dibayar. Sebulan kemudian saya membayar hutangnya saat gajian.
Memang, sebenarnya nominalnya tidak besar. Saya juga tahu kalau saya akan segera gajian dan saya bisa membayar utangnya tanpa harus megap-megap. Tapi sampai sekarang saya masih ingat rasanya. Momen ketika saya sadar uang saya tidak cukup dan ada kebutuhan yang tidak terduga. Itu baru soal sakit.
Bagaimana kalau adik saya yang sakit? Bagaimana kalau ada keperluan dadakan lagi seperti rumah yang bocor atau hal seperti yang saya alami?
Karena itu, saat kesempatan menjadi pegawai tetap datang, saya tidak menyia-nyiakannya. Gajinya memang bukan yang paling besar, namun nominalnya cukup untuk bertahan hidup. Setidaknya, saya nggak akan pusing harus bayar uang sekolah adik saya dari mana.
Kadang ada yang tanya, kenapa kamu kerja di sini? Lulusan “sana” kan biasanya ke luar negeri, kata mereka. Apalagi kalau "hanya" jadi staf biasa, bukannya dosen atau peneliti. Saya tertawa saja, bilang kalau saya nggak pintar-pintar amat, biar yang lain saja.
Di masa-masa itu, LPDP saya lupakan sejauh-jauhnya. Saya kubur keinginan saya dan menenggelamkan diri di lingkungan kerja saya yang baru. Saya suka kestabilan saya. Karena untuk setiap ketidakpastian yang gagal, yang rugi bukan hanya saya, tapi juga keluarga saya.
Karena itu: jangan sampai gagal!
Awalnya saya hanya bekerja untuk bertahan hidup, tapi ternyata bekerja di sana menyenangkan, in a way. Lingkungannya jauh berbeda dengan lingkungan saya waktu kuliah, meskipun secara teknis ada di tempat yang sama.
Mimpi-mimpi yang dibuat lebih sederhana—LPDP jadi sesuatu yang sepertinya tidak cocok untuk dijadikan tujuan. Ada banyak makanan yang bikin saya jadi gendut (ha ha). Semua orang baik dan mengajak saya mendekat ke hal-hal yang baik pula. Saya dapat mentor yang mengajarkan saya tentang kultur kerja, dan mengajak saya untuk kembali punya cita-cita.
Tapi hal yang paling saya suka di kantor adalah menjadi orang yang paling muda. Mayoritas orang di sana lebih tua dari saya, dan mendadak saya punya figur orangtua yang bisa saya koleksi seperti kartu Pokemon. Keadaan masih kadang membuat lelah, namun saya punya banyak teman cerita. Kondisi Ayah membaik walaupun memang sudah tidak bisa bekerja. Gaji saya perlahan bertambah dan membuat saya tidak perlu lagi berhitung terlalu ketat.
Karena itu, saat ada kesempatan beasiswa lagi, kali ini dari Kementerian—saya berminat tapi juga ogah-ogahan. Saya sedang berada di momen nyaman dalam hidup, di mana pelan-pelan kehidupan saya (cukup) stabil dan tidak perlu gimnastik mental setiap bulannya. Saya berdiskusi dengan mentor saya, dan dia menyarankan untuk coba saja dulu, meskipun kemungkinannya kecil. (Kuotanya sedikit, dan dipilih dari seluruh Indonesia).
Saya kembali menyisir program studi untuk dituju. Program studi di tempat saya bekerja tidak dibuka untuk beasiswa. Ada pilihan di universitas lain; cukup jauh dari Bandung, dan sepertinya harus mengambil cuti besar kalau mau kuliah di sana. Ada pilihan hybrid di tempat lain, namun saya tidak terlalu suka silabusnya.
Saat timeline pendaftaran berjalan, datang satu hal baru: seseorang melamar saya. Momen itu saya mantap memilih menikah sebagai jalan berikutnya. Sepertinya memang kuliah magister tidak jadi cita-cita saya saat itu. Dengan bergesernya jalur karir saya, kuliah entrepreneurship management jadi tidak terlalu menarik, dan saya tidak tahu kalau belajar akan dibawa ke mana.
Thus, saya mengurungkan niat mendaftar dan mengurus pernikahan saya. Itu sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu.
Setelah menikah, tidak pernah terpikir oleh saya untuk kembali sekolah.
Bukan karena saya tidak suka belajar. Namun karena menikah ternyata merupakan sekolah kehidupan tersendiri yang kurikulumnya senantiasa selalu berubah dan bertambah. Selain bekerja, menjadi istri membawa saya ke dalam deretan tanggung jawab baru dan dinamika baru.
Pekerjaan masih terjaga, untungnya. Kami melewati pandemi dengan selamat dan saya mendapatkan promosi. Saya pindah unit kerja, meninggalkan teman-teman kerja yang perlahan mulai terasa seperti saudara. Walaupun pindah, untungnya kami masih bisa bertemu dan berkegiatan bersama. Sesuatu yang saya syukuri sampai saat ini.
Tempat kerja yang baru membawa saya berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak kalah hebat. Dari tanggung jawab baru ini, saya menyadari kalau ada hal lain yang saya suka dari pekerjaan ini: manajemen proyek dan sistem. Saya menikmati belajar tentang proses operasional dan mengatur kebijakan di lingkup pekerjaan yang saya lakukan.
Program studi manajemen di tempat saya bekerja memiliki kelas eksekutif; satu-satunya kelas yang bisa diikuti karyawan. Kuliah setiap akhir minggu. Namun pilihan itu sudah saya coret dari awal, karena biayanya jauh lebih mahal dan tidak terdaftar di beasiswa mana pun.
Sempat terpikir untuk melanjutkan kuliah di kelas karyawan yang terjangkau, namun lagi-lagi saya tidak sreg dengan silabusnya. Mungkin memang bukan waktunya, pikir saya.
Di tengah kebutuhan yang banyak, cicilan KPR rumah, dan lain-lainnya, kebutuhan untuk sekolah lagi jadi mengecil dan tidak bisa jadi prioritas utama. Selain pekerjaan yang intensitasnya bertambah, saya juga beradaptasi dengan situasi rumah tangga yang dinamis dan tanggung jawab lainnya. Kehidupan lebih aman namun juga lebih menantang.
Mengatur keuangan dan manajemen rumah tangga tidak kalah sulit dibanding mata kuliah. Menyelaraskan pikiran dua orang akan selalu jadi tantangan yang sepertinya tidak akan ada habisnya meskipun sudah bersama bertahun-tahun lamanya.
Saya masih membawa keinginan itu, namun harus saya simpan dulu ke pojok ruangan. Sampai nanti mungkin ada waktu yang bisa mengizinkan.
Sampai bertahun-tahun setelah pertama kali saya punya keinginan untuk sekolah lagi, kesempatan itu datang pada saya dalam bentuk sebuah beasiswa. Lagi.
Lucunya, kali ini saya tidak sedang mencarinya.
Saya bahkan tidak sedang punya ambisi besar untuk menjadi apa-apa.
Beasiswa ini adalah beasiswa khusus untuk peningkatan tenaga SDM di kantor saya. Kelas yang dibuka adalah kelas manajemen eksekutif, bukan entrepreneurship seperti yang dulu saya bayangkan. Program ini tidak pernah dijadikan beasiswa sebelumnya—hanya bisa dilakukan karena yang membuka beasiswanya, ya, sekolahnya sendiri.
Jadwalnya memungkinkan saya tetap bekerja. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa mungkin saya tidak harus memilih antara bertahan hidup dan punya cita-cita. Saat membaca persyaratannya, saya berpikir:
Sepertinya saya akan menyesal kalau tidak mencoba, daripada mencoba lalu gagal.
Saat saya utarakan niat itu pada suami saya, suami saya hanya bilang: coba saja, biar tidak penasaran. Kuota yang tersedia ada sepuluh. Memang sedikit, tapi karena karyawan yang jumlahnya sekitar dua ribu orang, rasionya masih lebih oke dibanding bersaing dengan seluruh Indonesia. Bahkan bisa dibilang cukup banyak.
Pengurusan dokumen hanya diberikan batas waktu dua hari kerja. Dengan semangat yang entah datang dari mana, saya mengurus semuanya, dan mengikuti ujian di sela-sela persiapan acara dan program kerja yang sedang padat-padatnya, sampai katanya saya beberapa kali nggak nyambung diajak ngobrol (ha ha ha).
Ujian tahap satu, dua, dan tiga, saya lulus. Sampai tinggal tersisa beberapa belas orang. Tahap interview dilewati dengan sedikit deg-degan. Semua orang bilang saya pasti diterima, dan harusnya saya tenang saja alih-alih panik setiap hari.
Tentu saja, kali ini saya ujian dengan keadaan yang jauh lebih tenang. Pertaruhan kali ini penuh hanya dengan diri saya sendiri. Kalau gagal, hanya saya yang rugi. Namun tetap saja, ini berarti saya juga berperang dengan diri sendiri. Mungkin itu yang membuat saya tetap sedikit deg-degan. Karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
Menunggu pengumuman kelulusan rasanya seperti waktu menunggu kelulusan ujian masuk perguruan tinggi dulu. Ada perasaan bahwa sepertinya kali ini saya lulus, namun saya tidak berani terlalu yakin karena takut kecewa.
Pada hari pengumuman, saya meminta doa pada teman-teman di grup chat, lalu minta suami menemani saya melihat hasilnya. Suami saya bilang: persiapkan ruang untuk kecewa supaya tidak terlalu sedih nantinya.
Hasil diumumkan pukul lima sore. Kami pulang berdua dengan motor dan memutuskan mampir di sebuah warung masakan Palembang sambil melihat hasilnya. Beberapa pesanan yang kami mau tidak ada, tapi saya tidak terlalu memikirkannya. Yang ada di kepala saya cuma: apakah saya diterima?
Barulah ketika Letter of Acceptance terlihat dan status menyatakan saya lulus sebagai mahasiswa S2, ada air yang tahu-tahu muncul di sudut mata. Saya menangis. Nangis jelek sampai saya harus menjelaskan pada pramusaji yang mengantarkan pesanan kalau saya bukan menangis gara-gara suami saya. 🤣
Saya tidak terlalu paham mengapa saya menangis. Tapi kini rasanya saya sadar bahwa saya menangis bukan untuk saya yang sekarang, melainkan untuk saya yang waktu itu memutuskan untuk menunda semuanya.
Untuk saya yang berusia dua puluh lima tahun dan berpikir bahwa mungkin memang bukan waktunya. Untuk saya yang memilih pekerjaan karena keluarga membutuhkannya, memilih kestabilan karena saya tidak mau mengambil risiko, dan kemudian belajar menjalani hidup tanpa terlalu banyak bertanya tentang cita-cita yang pernah saya punya.
Mungkin yang membuat saya menangis adalah kesadaran bahwa keputusan itu ternyata bukan akhir dari cerita.
Kesempatan itu tidak hilang. Keinginan itu juga tidak benar-benar hilang.
Dan ternyata, bertahun-tahun kemudian, hidup memberi kesempatan bagi saya untuk mencoba lagi. Hidup boleh tidak sesuai rencana awal, namun toh yang Maha Pembuat Rencana memiliki rencana lain yang lebih baik.

saya, jadi peserta sekaligus panitia di sidang penerimaan mahasiswa.
Saya tidak tahu akan dibawa ke mana perjalanan ini. Tentu saja pekerjaan masih padat, dan tantangan tambahan langsung datang begitu saya resmi jadi mahasiswa; seakan-akan langsung menguji niat dan itikad saya. (Yang akan saya ceritakan di kesempatan lainnya, ha ha).
Sidang penerimaan mahasiswa baru saja terlewati. Sebuah momen langka di mana saya jadi panitia penyelenggara sekaligus peserta. Diledek habis oleh teman-teman kantor, karena saya harusnya duduk di tribun sambil berkenalan dengan teman-teman baru, tapi malah sibuk revisi materi di detik-detik terakhir.
Minggu lalu saya baru menjalani hari orientasi, yang mempertemukan saya dengan banyak orang hebat dan pintar, dan membuat saya menyadari kalau ada banyak yang harus saya pelajari. Akhir minggu ini akan jadi kelas pertama saya.
Namun setelah bertahun-tahun, rasanya cukup menyenangkan akhirnya bisa mengatakan: saya akhirnya jadi mahasiswa lagi.
Doakan saya lancar menempuh pendidikan, dan lulus tepat waktu, ya.
Wish me luck!
Mega